Senin, 08 November 2010

Kestabilan Nilai Tukar Rupiah Membawa Dampak Menurunnya Laju Inflasi


Presiden SBY saat menyampaikan laporan RAPBN dan Nota Keuangan di gedung MPR/DPR RI, Senin (16/8) sore. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY saat menyampaikan laporan RAPBN dan Nota Keuangan di gedung MPR/DPR RI, Senin (16/8) sore. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Sejalan dengan terpeliharanya kestabilan nilai tukar rupiah, laju inflasi selama tahun 2009 secara berangsur-angsur terus menurun. Laju inflasi tahunan yang pada akhir tahun 2008 mencapai sekitar 11,1 persen, menurun menjadi 2,8 persen pada akhir tahun 2009. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini ketika menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2011 Beserta Nota Keuangannya, di hadapan Rapat Paripurna DPR di Gedung Paripurna DPR/MPR RI, Senin (16/8) sore.

"Angka ini di bawah sasaran yang ditetapkan pemerintah sebesar 4,5 persen," ujar SBY. Presiden menambahkan bahwa menurunnya laju inflasi sepanjang tahun 2009, sangat dipengaruhi oleh rendahnya laju inflasi pada bahan makanan dan komponen barang-barang yang harganya ditetapkan pemerintah.

Namun, pada tahun 2010 ini, laju inflasi diperkirakan cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan perekonomian dunia yang mendorong kenaikan harga-harga komoditas global, dan inflasi mitra dagang utama Indonesia.

Selain itu, perubahan iklim yang ekstrim juga telah berdampak pada menurunnya produksi pangan dunia. "Penurunan produksi seperti gandum, gula dan jagung di tingkat global, berakibat pada meningkatnya harga pangan dunia dan mendorong terjadinya inflasi," Presiden menjelaskan.

Oleh karena itu, pemerintah harus terus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan dengan melakukan operasi pasar, menjaga kecukupan pasokan dan ketersediaan barang, mengamankan stok di daerah, menjaga kelancaran distribusi barang, mengembangkan sistem logistik nasional, dan mengintensifkan penyuluhan pertanian agar petani lebih siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Di lain pihak, menurunnya tekanan inflasi sepanjang tahun 2009, telah direspon dengan penurunan BI rate sejak Januari 2009, dan mendorong suku bunga SBI 3 bulan rata-rata dalam tahun 2009, mencapai sekitar 7,6 persen. "Ini lebih rendah dari rata-rata suku bunga SBI 3 bulan tahun sebelumnya, tahun 2008, yang mencapai sekitar 9,3 persen," kata SBY.

Menurut Kepala Negara, stabilitas ekonomi makro dan kepercayaan pasar, merupakan prasyarat untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan. Ketika sebagian besar negara di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif di tahun 2009, laju pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 4,5 persen. "Ini menempatkan negara kita menjadi salah satu dari tiga negara yang memiliki kinerja ekonomi terbaik dalam tahun itu, di samping Tiongkok dan India," SBY menjelaskan.

Presiden SBY menambahkan bahwa selama paruh pertama tahun 2010, pertumbuhan PDB nasional juga mengalami percepatan. Pada triwulan I tumbuh sekitar 5,7 persen, dan pada triwulan II tumbuh sekitar 6,2 persen.

Kepala Negara juga meyakini dengan arah perkembangan yang positif, pemerintah optimis akan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia dalam tahun 2010 ini. "Diperkirakan dapat mencapai 6,0 persen, lebih tinggi dari perkiraan semula, sebesar 5,8 persen," Presiden menandaskan.

Berdasarkan perkembangan ekonomi global dan perekonomian domestik, lanjut Presiden, kerangka ekonomi makro dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2011 mengambil dasar perhitungan berbagai besaran dalam RAPBN tahun 2011. Dasar perhitungan tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, laju inflasi 5,3 persen, suku bunga SBI 3 bulan 6,5 persen, nilai tukar Rp 9.300 per dolar Amerika Serikat, harga minyak 80,0 dolar AS per barel, dan lifting minyak
sumber : http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2010/08/16/5779.htmlsebesar 970 ribu barel per hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar